Senin, 11 November 2019

MAKALAH
KOMPARASI PENGELOLAAN ZAKAT PADA MASA
RASULULLAH, KHULAFAUR RASYIDIN, BANI UMAYAH,
DAN BANI ABBASIYAH
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Zakat dan Wakaf
Dosen Pegampu : Rina Rosia, S.H.I, M.S.I.
 
Disusun Oleh :
                                               Siti Nazilatul Hidayah   (63010170277)
                                        
                                          PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
                                         FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
                                      INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
                                                                              2019

                                                             KATA PENGANTAR

Puji  syukur  atas  berkat  rahmat  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  yang  telah
memberikan  rahmat,  hidayat,  dan  karunia-Nya  sehingga  kami  dapat  menyelesaikan
makalah ini.
Shalawat  dan  salam  semoga  senantiasa  tercurahkan  kepada  junjungan  kita
Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Makalah ini telah kami
susun  dengan  maksimal  dan  mendapatkan  bantuan  dari  berbagai  pihak  sehingga
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi.
Kami menyadari bahwa makalah  ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu
dengan  tangan  terbuka  kami  akan  menerima  kritik  dan  saran  pembaca  agar  dapat
memperbaiki pembuatan makalah selanjutnya.
                                                                                                  Salatiga, September 2019
 
                                                                                                               Penyusun

                                                                      DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR  ......................................................................... ii
DAFTAR ISI  .......................................................................................  iii
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang  ...............................................................................  1
B. Rumusan Masalah  ..........................................................................  2
C. Tujuan Pembahasan  .......................................................................  2
BAB II PEMBAHASAN
A.  Zakat Pada Masa Rasulullah  ..........................................................  3
B. Zakat Pada Masa Khulafaur Rasyidin  ............................................  5
C. Zakat Pada Masa Bani Umayah dan Abbasiyah  ............................  8
BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan  ..................................................................................  10
B. Saran  ...........................................................................................  10
DAFTAR PUSTAKA   ........................................................................  11

                                                                              BAB I
                                                                    PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Zakat  merupakan  salah  satu  ibadah  yang  diwajibkan  oleh  Allah  SWT  kepada
setiap  kaum  Muslimin.  Perintah  zakat  didalam  Al-Quran  senantiasa  disandingkan
dengan  perintah  shalat.  Pentingnya  menunaikan  zakat  karena  perintah  ini
mengandung misi sosial yang memiliki tujuan jelas bagi kemaslahatan umat. Tujuan
yang  dimaksud  antara  lain  untuk  memecahkan  problem  kemiskinan,  meratakan
pendapatan, meningkatkan kesejahteraan umat dan negara. Inilah yang menunjukkan
betapa pentingnya menunaikan zakat sebagai salah satu rukun Islam.  Zakat menurut
syaraʽ adalah sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat-syarat tertentu yang
diwajibkan  oleh  Allah  SWT  kepada  setiap  orang  muslim  untuk  dikeluarkan  dan
diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.
Sejarah  pengelolaan  zakat  oleh  amil  zakat  telah  dicontohkan  sejak  zaman
Rasulullah  Shallalahu  ‘alaihi  wassallam  dan  para  khalifaurrasyidin.  Salah  satu
contohnya  adalah  ketika  Nabi  Muhammad  Shallalahu  ‘alaihi  wassallam  mengutus
Muadz  bin Jabal  ke  Yaman  dan  pada  saat  beliau  menjadi  Gubernur  Yaman,  beliau
pun  memungut  zakat  dari  rakyat  dan  disini  beliau  bertindak  sebagai  amil  zakat.
Melihat  pentingnya  zakat  dan  bagaimana  Rasulullah  Shallalahu  ‘alaihi  wassallam
telah mencontohkan tata cara mengelolanya, dapat disadari bahwa pengelolaan zakat
bukanlah suatu hal yang mudah dan dapat dilakukan secara individual. Agar maksud
dan  tujuan  zakat,  yakni  pemerataan  kesejahteraan,  dapat  terwujud,  pengelolaan  dan
pendistribusian zakat harus dilakukan secara melembaga dan terstruktur dengan baik.
Hal  inilah  yang  kemudian  menjadi  dasar  berdirinya  berbagai  Organisasi  Pengelola
Zakat di berbagai negara

B.  RUMUSAN MASALAH
1.  Bagaimana Zakat Pada Masa Rasulullah?
2.  Bagaimana Zakat Pada Masa Khulafaur Rasyidin?
3.  Bagaimana Zakat Pada Masa Bani Umayah?
4.  Bagaimana Zakat Pada Masa Bani Abasiyah?
C.  TUJUAN PEMBAHASAN
1.  Untuk mengetahui bagaimana Zakat Pada Masa Rasulullah.
2.  Untuk mengtahui bagaimana Zakat Pada Masa Khulafaur Rasyidin.
3.  Untuk mengtahui bagaimana Zakat Pada Masa Bani Umayah.
4.  Untuk  mengtahui  bagaimana  Zakat  Pada  Masa  Bani  Abasiyah.

                                                                          BAB II
                                                                    PEMBAHASAN

A.  ZAKAT PADA MASA RASULULLAH
Salah  satu  pendapatan  negara  pada  masa  rasulullah  adalah  zakat.
Zakat  pada  tiga  belas  tahun  di  makkah,  kaum  muslimin  didorong  untuk
menginfakkan  harta  mereka  buat  para  fakir,  miskin  dan  budak,  namun
belum  ditentukan  nisab  dan  beberapa  kewajiban  zakatnya,  juga  belum
diketahui apakah telah terorganisasi pengumpulan dan penyaluranya, yang
jelas kaum muslimin awal memberikan sebagian  besar harta mereka untuk
kepentingan  Islam  pada  masa  sebelum  Nabi  Muhammad  hijrah  ke
Madinah.
Pada  tahun  kedua  Hijriyah,  berdirilah  lembaga  Baitul  Mal  untuk
mengatur  setiap  harta  benda  kaum  muslimin  besrta  dengan  penentuan
besarnya  zakat  yang  harus  dikeluarkan,  baik  harta  yang  keluar  maupun
harta  yang  masuk.  Sistem  pengelolaan  Baitul  Mal  kala  itu  masih  sangat
sederhana, belum ada kantor resmi, surat menyurat, dokumentasi,dan lainlain layaknya sebuah lembaga keuangan negara.
Manajemen  operasional  yang  bersifat  teknis  dapat  dilihat  pada
pembagian  struktur  amil  zakat,  yang  terdiri  dari  :  (1)  Katabah,  petugas
yang  mencatat  para  wajib  zakat,  (2)  Hasabah,  petugas  yang  menaksir,
menghitung zakat, (3) Jubah, petugas yang menarik, mengambil zakat dari
para muzakki, (4) Khazanah, petugas yang menghimpun dan memelihara
harta, dan (5) Qasamah, petugas  yang menyalurkan zakat pada mustahiq
(orang yang berhak menerima zakat).
Penerimaan dan pengeluaran dalam Baitul Mal secara keseluruhan
dan  terperinci  tidak  tercatat  secara  sempurna  karena  beberapa  alasan.
Pertama, minimnya jumlah orang Islam yang bisa membaca, menulis, dan
perhitungan  matematis.  Kedua,  sebagian  besar  bukti  pembayaran  dibuat
dalam  bentuk  yang  sederhana,  baik  yang  didistribusikan  maupun  yang
diterima.  Ketiga,  sebagian  besar  hasil  pengumpulan  zakat  hanya
didistribusikan  secara  lokal.  Keempat,  berbagai  bukti  penerimaan   dari
berbagai  daerah  yang  berbeda  tidak  umum  digunakan.  Kelima,  pada
sebagian  besar  kasus,  ghanimah  segera  didistribusikan  setelah  terjadi
peperangan.
Namun  juga  tidak bisa  disimpulkan bahwa sistem keuangan  yang
ada  membingungkan.  Pencatatannya diserahkan pada  orang yang terlatih.
Setiap perhitungan yang ada disimpan dan diperiksa oleh Rasulullah.
B.  ZAKAT MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Untuk  mengetahui  dengan  lebih  jelas  pola  oprasional  aplikasi  dan
implementasi  zakat  pada  masa  pada  masa  sahabat  dapat  dilihat  dalam
priode-priode berikut ini:
1.  Pada Masa Abu Bakar
Abu  Bakar  adalah  sahabat  yang  terpercaya  dan  dikagumi  oleh
Rasulullah  SAW.  ia  merupakan  pemuda  yang  pertama  kali  menerima
seruan  Rasulullah  tanpa  banyak  pertimbangan.  Beliau  merupakan
pemimpin agama sekaligus kepala negara bagi kaum Muslim.
Beliau  membangun  Baitul  mal  kembali  dan  meneruskan  sistem
pendistribusian  harta  untuk  rakyat  sebagaimana  yang  telah  diterapkan
pada masa Rasulullah. Beliau juga mempelopori sistem penggajian bagi
aparat  negara.  Dalam  usahanya  meningkatkan  kesejahteraan  umat
islam,  khalifah  Abu  bakar  as  shidiq  melaksanakan  berbagai  kebijakan
ekonomi seperti yang telah dipraktikan oleh Rasulullah:
1.  Perhatian yang besar terhadap keakuratan penghitungan zakat
2.  Melaksanakan kebijakan pembagian tanah hasil takluka.
3.  Mengambil alih tanah-tanah dari orang murtad untuk dimanfaatkan
demi kepentingan umat Islam.
4.  Distribusi  harta  Baitul  Mal  menerapkan  prinsip  kesamarataan,
dengan begitu selama pemerintahan  Abu bakar As Shidiq harta di
Baitul  mal  tidak  pernah  menumpuk  dalam  jangka  waktu  lama
karena langsung di distribusikan kepada kaum muslim.
5.  Mengelolah barang tambang ( rikaz ) yang terdiri dari emas, perak,
perunggu,  besi,  dan  baja  sehingga  menjadi  sumber  pendapatan
Negara
6.  Menetapkan  gaji  pegawai  berdasarkan  karakteristuk  daerah
kekuasaan masing – masing
7.  Tidak  merubah  kebijakan  rasullah  SAW  dalam  masalah  jizyah.
Sebagaimana Rasulullah Saw.
Abu  Bakar  ash-Shidiqh  tidak  membuat  ketentuan  khusus  tentang
jenis dan kadar jizyah, maka pada masanya, jizyah dapat berupa emas,
perhiasan, pakaian, kambing, onta, atau benda benda lainya.
Pengelolaan  zakat  pada  masa  abu  bakar  as-sidiq  ra.  Sedikit
mengalami  kendala.  Pasalnya,  beberapa  umat  muslim  menolak
membayar  zakat.  Mereka  meyakini  bahwa  zakat  adalah  pendapat
personal  Nabi  saw.
Menurut  golongan  ingkar  zakat  ini,  zakat  tidak
boleh ditunaikan pasca wafatnya Nabi saw. Pemahaman yang salah ini
hanya  terbatas  dikalangan  suku-suku  Arab  Badawi  ini  menganggap
pembayaran zakat sebagai hukuman atau beban yang merugikan.
2.  Periode Umar ibnu al-Khatab
Untuk  mencegah  terjadinya  perselisihan  di  kalangan  umat  islam,
Abu bakar bermusyawarah dengan para pemuka sahabat untuk mencari
calon  penggantinya,  berdasarkan  hasil  musyawarah  Abu  bakar
menunjuk Umar bin Khattab sebagai khalifah yang kedua.
Ia  menetapkan  suatu  hukum  berdasarkan  realitas  social.  Diantara
ketetapan ‘Umar ra. adalah menghapus  zakat bagi golongan  mu’allaf  ,
enggan  memuat  sebagian  ‘usyy  (zakat  tanaman)  karena  merupakan
ibadah  pasti,  mewajibkan  khraj  (sewa  tanah),  menerapkan  zakat  kuda
yang tidak pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad saw.  Pada masa
Rasulullah  Saw.,  jumlah  kuda  di  Arab  masih  sangat  sedikit,  terutama
kuda  yang  dimiliki  oleh  kaum  Muslimin  karena  digunakan  untuk
kebutuhan pribadi dan jihad. Di Hudaybiyah mereka mempunyai sekitar
dua ratus kuda. Karena zakat dibebankan terhadap barang-barang yang
memiliki produktivitas, seorang budak atau seekor kuda  yang dimiliki
kaum  Muslimin  ketika  itu  tidak  dikenakan  zakat.  Sementara  itu  umar
tetap membenarkan kewajiban zakat dua kali lipat terhadap orang-orang
Nasrani Bani Taglab, hal ini disebut zakat muda’afah. Zakat muda’afah
terdiri  dari  jizyah  (cukai  perlindungan) dan  beban  tambahan  jizyah
sebagai  imabangan  kebebasan  bela  negara,  kebebasan  hamkamnas,
yang  diwajibkan  kepada  warga  negara  muslim.  Sedangkan  beban
tambanhannya adalah sebagai imbanagan zakat yang diwajibkan secara
khusus kepada umat islam. Umar ra, tidak merasa salah dalam menarik
pajak  atau jizyah dengan nama zakat  karena  orang-orang  nasrani  tidak
setuju dengan istilah jizyah tersebut.
3.  Periode Utman ibnu ‘Affan ra
Pengelolaan  zakat  pada  masa  Usman  dibagi  menjadi  dua  macam
yaitu  zakat  al-awalzzahirah  dan  zakat  al’amwalal  al-bainiyah  (harta
benda  yang  tidak  tampak  atau  tersembunyi),  seperti  uang  dan  barang
perniagaan.  Zakat  kategori  pertama  dikumpulkan  oleh  negara,
sedangkan yang kedua diserahkan kepada masing-masing individu yang
berkewajiban  mengeluarkan  zakatnya  sendiri  sebagai  bentuk
selfassesment.
4.  Periode ‘Ali ibnu Talib ra
Setelah  diangkat  sebagai  khalifah  keempat  oleh  segenap  kaum
muslimin,  Ali  Bin  Abi  Thalib  langsung  mengambil  tindakan  seperti
membuka  kembali  lahan  perkebunan  yang  telah  diberikan  kepada
orang-orang  kesayangan  Usman,  dan  mendistribusikan  pendapatan
pajak  tahunan  sesuai  dengan  ketentuan  yang  ditetapkan  umar  bin
khattab.
Situasi politik pada masa kepemimpinan Khilafah ‘Ali ibnu Talib ra.
berjalan tidak stabil, penuh peperangan dan pertumpahan darah. Akan
tetapi  ‘Ali  ibnu  Abi  Talib  ra.,  tetap  mencurahkan  perhatiannya  yang
snagat  serius  dalam  mengelola  zakat.  Ia  melihat  bahwa  zakat
merupakan urat nadi kehidupan bagi  pemerintahan dan agama. Ketika
‘Ali  ibnu  Talib  ra  bertemu  dengan  orang-orang  fakir  miskin  dan  para
pengemis  buta  yang  beragama  non-  muslim  (Nasrani),  ia  mengatakan
biaya  hidup  mereka  harus  ditanggung  oleh  Baitul  Mal.  Khalifah  ‘Ali
ibnu Talib ra. juga ikut  terjun langsung dalam  mendistribusikan zakat
kepada  para  mustahiq.  Delapan  golongan  yang  telah  menerima  zakat.
Harta  kekayaan  yang  wajib  zakat  pada  masa  Khalifah  ‘Ali   ibnu  Abi
Talib ra. ini sangat beragam. Jenis barang-barang yang wajib zakat pada
waktu itu berupa dirham, dinar, emas, dan jenis kekayaan apapun tetap
dikenai kewajiban zakat.
C.  ZAKAT  PADA  MASA  DINASTI  UMAYYAH  DAN  DINASTI
ABBASIYAH
Pengelolaan masa sejarah Daulah Bani Umayyah yang berlangsung
selama  hampir  90  tahun   (41-127  H).  Khalifah  Umar   ibn  Abdul  Aziz
adalah  tokoh  terkemuka  yang  patut  dikenang  sejarah,  khususnya  dalam
pengelolaan zakat. Di tangannya, penggelolaan zakat mengalami reformasi
yang sangat memukau. Semua jenis harta wajib dizakati. Hal ini dilakukan
semata-mata agar rakyat yang tidak mampu secara finansial kebutuhanya
tercukupi.  Untuk  melakukan  sejumlah  kebijakan  untuk  mewujudkan
visinya  tersebut,  pertama  berkaitan  tentang  zakat,  Umar  mengaturnya
sedemikian rupa agar seluruh rakyat dapat menikmatinya. Akhirnya ia pun
membagi  beberapa  katagori  pengeluaran  zakat,  antar  lain  zakat  orang
sakit,  zakat  orang  difabel,  zakat  kaum  duafa  dan  fakir.  Ia  juga
memerintahkan  agar  zakat  diberikan  pula  kepada  mereka  yang  terlilit
hutang. Untuk mengatasi terhimpunya kebutuhan anggaran zakat tersebut,
Umar   juga  menghemat  seluruh  pendapatan  kas  negara  seperti  tidak
memberi gaji yang tinggi kepada penjabat yang memimpin di masa itu.
Sehingga pada masa kepemimpinanya, dana zakat melimpah ruah
tersimpan  di  Baitul  Mal  bahkan  petugas  amil  zakat  kesulitan  mencari
golongan  fakir  miskin  yang  membutuhkan  zakat.  Beberapa  faktor  utama
yang  melatarbelakangi  kesuksesan  manajemen  dan  penggelolaan  zakat
pada masa Khalifah umar ibn  ‘Aziz  pertama  adanya kesadaraan kolektif
dan  pemberdayaanya  Baitul  Mal  dengan  Optimal.  Kedua,  Komitmen
tinggi  seseorang  didukung  oleh  kesadaran  uamat  secara  umum  untuk
menciptakan  kesejahteraan,  solidaritas,dan  pemberdayaan  umat.  Ketiga,
kesadaraan  dikalangan  muzakki  (  Pembayar  zakat)  yang  relatif  mapan
secara  ekonomis  dan  memiliki  loyalitas  tinggi  demi  kepentingan  uamt.
Keempat , adanya kepercayaan terhdap birokrasi atau pengelola zakat yang
bertugas menggumpulkan dan mendistribusikan.
Puncak  keberhasilan  pengelolan  zakat  terjadi  pada  masa  khilafah
Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Ketika kejayaan islam mulai mengalami
pasang surut,  dan di  dunia berkembang konsep negara bangsa berdasarkan
asas  nasionalisme,  maka  umat  Islam  tidak  lagi  hidup  dalam  satu  atap
kekhalifahan,  tetapi  terpecah  menjadi  beberapa  negara  dengan  peraturan
yang  berbeda-beda.  Namun  semangat  membayar  zakat  bagi  umat  Islam
masih terus berlanjut.
Secara  historis  disebutkan  bahwa  ada  suatu  kecenderungan
penguasa  muslim,  sejak  Daulah  Abbasiyah  hingga  Turky  Usmani,  yang
selalu  menunjukkan  ajaran  kedermawanan  Islam  dalam  bentuk
kelembagaan. Khusunya pendidikan dan madrasah. Terlihat pemerintah  /
penguasa  menyokong  bahkan  membiayai  sepenuhnya  lembaga  tersebut,
misanya madrasah Nizamiyah yang didirikan pada abad ke 10 M dan 11 M.

                                                                    BAB III
                                                                  PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dari pembahasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa keadaan
zakat pada masa Rasulullah sangat  membantu umat Islam terutama dalam
kebutuhan  ekonomi  Negara,  Zakat  pada  masa  awal  pemerintahan  Islam,
zakat  dikumpulkan  dalam  bentuk  uang  tunai,  hasil  peternakan,  dan  hasil
pertanian yang dikumpulkan ke Baitul Mal  dan seiring berjalannya waktu
pada  masa  khulafaurrasyidin  mengalami  pembaharuan.  Kemudian  pada
Penggelolaan  masa  sejarah  Daulah  Bani  Umayyah  yang  berlangsung
selama  hampir  90  tahun   (41-127  H),  Khalifah  Umar   ibn  Abdul  Aziz
adalah  tokoh  terkemuka   yang  patut  dikenang  sejarah,  khususnya  dalam
pengelolaan Zakat. Hingga adanya komparasi pengelolaan zakat.
B.  Saran
Penulis  menyadari  dalam  penulisan  makalah  ini  jauh  dari
kesempurnaan. Oleh karena itu penulis senantiasa dengan lapng dada akan
menerima  kritik  dan  saran  yang  bersifat  membangun  demi  perbaikan
makalah kami selanjutnya.

                                                    DAFTAR PUSTAKA

Amalia,Euis.2010.Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Depok: Gramata. hlm 78
Nasution,  Mustafa  Edwin.2006.engenalan  Eksklusif  Ekonomi  Islam.  Jakarta:
Kencana. hlm 214
Mahayuddin, Hj. Yahya.1995. Sejarah Islam. Kuala Lumpur Fajar Bakti. hlm 173
Supani.2010.Zakat di Indonesia, Purwokerto: Stain Press Hml 62-64

Tidak ada komentar:

Posting Komentar