Rabu, 09 Oktober 2019

Persepsi Dan Pengambilan Keputusan Individual



MAKALAH
“PERSEPSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL”
Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Perilaku Organisasi
Dosen Pengampu : Muhammad Muttaqin, M.M.



 
Disusun Oleh :

    Siti Nazilatul Hidayah           (63010170277)

PERBANKAN SYARIAH S1
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM (FEBI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
2019

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Persepsi Dan Pengambilan Keputusan Individual”. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Perilaku Organisasi, Bapak Muhammad Muttaqin, M.M. tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Perilaku Organisasi atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini, juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi anfaat bagi kita semua, semoga hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai “Persepsi Dan Pengambilan Keputusan Individual”. Memang makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.
Demikian makalah ini, semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan yang membacanya sehingga menambah wawasan dan pengetahuan tentang tulisan ini.

Salatiga, 22 September 2019

Penyusun



DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar ............................................................................................................ i
Daftar Isi ....................................................................................................................... ii
BAB I             PENDAHULUAN................................................................................ 1
A.    Latar Belakang.................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................. 1
C.     Tujuan .............................................................................................. 1
BAB II           PEMBAHASAN............................................................................... .... 2
A.    Persepsi............................................................................................. 2
B.     Pengambilan Keputusan ................................................................... 7
C.     Hubungan Persepsi Dengan Pengambilan Keputusan ..................... 12
BAB III          PENUTUP ............................................................................................ 14
A.    Kesimpulan  ..................................................................................... 14
Daftar Pustaka ............................................................................................................. 15

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Banyak gaya atau cara dalam pengambilan keputusan. Ada orang yang cenderung menghindari masalah, ada juga yang berusaha memecahkan/menyelesaikan masalah, bahkan ada yang mencari-cari masalah. Pada prinsipnya, cara pengambilan keputusan mengacu pada bagaimana seseorang mengolah informasi, apakah lebih dominan menggunakan pikirannya, ataukah dengan perasaannya. Setelah semua informasi diperoleh melalui fungsi persepsi, maka seseorang harus melakukan sesuatu dengan informasi tersebut.
Salah satu cara untuk mengambil keputusan adalah dengan mempergunakan perasaan dan persepsi. Perasaan disini bukan berarti emosi, melainkan dengan mempertimbangkan dampak dari suatu putusan terhadap diri sendiri dan orang lain. Apakah manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain. Apabila kita mengambil keputusan berdasarkan perasaan, kita akan mempertanyakan seberapa jauh kita pribadi akan melibatkan diri secara langsung, seberapa jauh kita merasa turut bertanggung jawab terhadap dampak atas keputusan yang diambil, baik terhadap sendiri maupun orang lain. Mereka yang mempunyai preferensi menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan, cenderung bersikap simpatik, bijaksana dan sangat menghargai sesama.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep persepsi ?
2.      Bagaimana konsep pengambilan keputusan individual ?
3.      Bagaimana hubungan antara persepsi dengan pengambilan keputusan individual ?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui konsep persepsi.
2.      Untuk mengetahui konsep pengambilan keputusan individual.
3.      Untuk mengetahui hubungan antara persepsi dengan pengambilan keputusan individual.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Persepsi
1.      Pengertian Persepsi
Menurut Suhendi & Anggara (2012: 67) Persepsi diartikan sebagai proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus diperoleh dari proses pengindraan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antargejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Sementara itu Persepsi (perception) menurut Robbins & Judge (2012: 175) adalah proses di mana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Namun apa yang diterima seseorang pada dasarnya bisa berbeda dari realitas objektif.
Rakhmat (2005: 51) Persepsi adalah Pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Thoha, (2003 :141) memberikan defenisi tentang persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungan baik lewat penglihatan, penghayatan, perasaan dan penciuman. Mangkunegara, (2005:14) mengemukakan tentang pengertian persepsi sebagai berikut : suatu proses menyeleksi stimulus dan diartikan.[1]
Robbins, (2007:175) memberikan pengertian persepsi atau perception adalah proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.
Sementara Kast dan James (2002:394), persepsi adalah untuk memahami perilaku, karena ia merupakan alat dengan mana ransangan (stimuli) mempengaruhi seseorang atau sesuatu organisme. Suatu ransangan yang tidak dirasakan, tidak akan berpengaruh terhadap perilaku. Dengan demikian orang berperilaku berdasarkan apa yang dirasakan dan bukan apa yang sesungguhnya. Dengan kata lain bahwa garis langsung ke kebenaran seringkali dianggap berdasarkan berbagai persepsi individual tentang dunia nyata, tetapi setiap orang sesungguhnya hanya mempunyai satu sudut pandangan saja.
Dari berbagai defenisi yang dikemukakan di atas disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu proses pemberian arti atau makna terhadap suatu objek yang ada pada lingkungan. Dengan demikian setiap orang mempunyai persepsi sendiri- sendiri, karena perbedaan kemampuan inderanya dalam menangkap stimuli (obyek).[2]
2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi


 
Gambar tersebut (Sumber: Stephen Robbins dan Judge, Organizational Behavior, (2012:176)  menunjukkan bahwa persepsi dibentuk oleh tiga faktor, yaitu: (1) Perceiver, orang yang memberikan persepsi, (2) target, orang atau objek yang menjadi sasaran persepsi, dan (3) situasi, keadaan pada saat persepsi dilakukan. Faktor pelaku persepsi mengandung komponen: (a) Sikap-sikap, (b) Motif-motif, (c) Minat-minat, (d) Pengalaman, (e) Harapan- harapan. Pelaku persepsi disini adalah penafsiran seorang individu pada suatu objek yang dilihatnya akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadinya sendiri, diantaranya sikap, motif, minat, pengalaman, dan harapan.
Kebutuhan atau motif yang tidak dipuaskan akan merangsang individu dan mempunyai pengaruh yang kuat pada persepsi mereka. Contohnya seperti seorang tukang rias akan lebih memperhatikan kesempurnaan riasan orang daripada seorang tukang masak, seorang yang disibukkan dengan masalah pribadi akan sulit mencurahkan perhatian untuk orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kita dipengaruhi oleh kepentingan/minat kita. Sama halnya dengan ketertarikan kita untuk memperhatikan hal-hal baru, dan persepsi kita mengenai orang-orang tanpa memperdulikan ciri-ciri mereka yang sebenarnya.
Faktor target mengandung komponen: (a) sesuatu yang baru, (b) gerakan, (c) suara, (d) ukuran, (f) latar belakang, (g) kedekatan (h) kemiripan. Dari target ini akan membentuk cara kita memandangnya. Misalnya saja suatu gambar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang oleh orang yang berbeda. Selain itu, objek yang berdekatan akan dipersepsikan secara bersama-sama pula. Faktor Situasi mengandung komponen: (a) waktu, (b) keadaan kerja, (c) keadilan sosial. Faktor dalam situasi juga berpengaruh bagi persepsi kita. Misalnya saja, seorang wanita yang berparas lumayan mungkin tidak akan terlihat oleh laki-laki bila ia berada di mall, namun jika ia berada di pasar, kemungkinanannya sangat besar bahwa para lelaki akan memandangnya.[3]
3.      Pengelompokan Persepsi
Menurut Thoha (2011: 157) Pengorganisasian persepsi itu meliputi tiga hal berikut ini:
1.      Kesamaan dan ketidaksamaan
Sesuatu obyek yang mempunyai kesamaan dan ketidaksamaan ciri, akan diperepsi sebagai suatu obyek yang berhubungan dan ketidakhubungan. Artinya obyek yang mempunyai ciri yang sama diperepsikan ada hubungannya, sedangkan obyek yang mempunyai ciri tidak sama adalah terpisah.
2.      Kedekatan dalam ruang
Obyek atau peristiwa yang dilihat oleh orang karena adanya kedekatan dalam ruang tertentu, akan dengan mudah diartikan sebagai obyek atau peristiwa yang ada hubungannya.
3.      Kedekatan dalam waktu
Obyek atau peristiwa juga dilihat sebagai hal yang mempunyai hubungan karena adanya kedekatan atau kesamaan dalam waktu.
Ketiga hal di atas merupakan proses pengorganisasian persepsi. Setiap obyek yang diketahui adanya kesamaan dan ketidaksamaan, kedekatan dalam ruang, dan kedekatan dalam waktu, maka akan diorganisasikan sedemikian rupa sehingga menciptakan suatu persepsi tertentu. Dapat di gambarkan berikut ini : [4]
  







4.      Kesalahan Persepsi
Ada sejumlah kesalahan persepsi yang sering terjadi dalam mempersepsikan orang lain. Kesalahan persepsi tersebut antara stereotyping, halo effect dan projection Stereotyping, adalah mengkategorikan atau menilai seseorang hanya atas dasar satu atau beberapa sifat dari kelompoknya.
a.       Stereotypin, seringkali didasarkan atas jenis kelamin, keturunan, umur, agama, kebangsaan dan kedudukan atau jabatan. Misalnya seorang manajer mempunyai persepsi bahwa ibu-ibu terutama yang mempunyai bayi di rumah tidak menyukai bekerja lembur dan meganggap bahwa bekerja lembur merupakan satu beban. Secara umum presepsi tersebut mungkin benar, tetapi tidak berarti benar untuk ibu-ibu tertentu.
b.      Halo Efeect, adalah kecenderungan menilai seseorang hanya atas dasar salah satu sifatnya saja. Misalnya seseorang yang mudah senyum dan penampilannya rapi di anggap lebih jujur dari orang yang berpenampilan serem. Hallo effect sering terjadi pada saat melakukan penilaian dan wawancara. Pewawancara seringkali menilai hanya dari slah satu sifat seseorang yang nampak menonjol pada saat wawancara dilakukan, pada hal salah satu sifat tersebut tidak mencerminkan sifat yang sebenarnya dari orang yang di wawancarai tersebut.
c.       Projection, merupakan kecenderungan seseorang untuk menilai orang lain atas dasar perasaan dan sifatnya. Oleh karenanya projection berfungsi sebagai suatu mekanisme pertahanan dari konsep diri seseorang sehinga lebih mampu menghadapi yang di lihatnya tidak wajar.[5]
5.      Memperbaiki Persepsi
Persepsi dapat mempengaruhi perilaku, dapat juga terjadi persepsi mengalami penyimpangan dalam berbagai macam bentuk. Oleh karena itu, seorang manajer harus mampu mengurangi kemungkinan terjadinya penyimpangan. Di bawah ini beberapa pedoman menurut Badeni (2013:59)  yang dapat dipakai untuk mengatasi  hal tersebut.
1.      Menyadari kapan faktor perceptual dapat memengaruhi persepsi seseorang. Misalnya, ketika kita menyampaikan suatu ide baru, kita harus sadar bahwa hal yang baru dapat memengaruhi persepsi orang tersebut bahwa hal itu sesuatu yang terbaik. Untuk itu, kita harus mencoba memengaruhi supaya hal baru tersebut tidak memengaruhi persepsinya. Contoh lain, ketika kita menugasi seseorang dengan tugas tertentu, seperti memimpin suatu kelompok.
2.      Menyadari motif (misalnya motif kuasa, afiliasi, dan lainnya) dapat berpengaruh terhadap persepsi tentang peran memimpin. Cara yang dilakukan adalah dengan menjelaskan perannya secara ekspilisit.
3.      Mencari informasi lain untuk mengonfirmasi yang kita tangkap. Misalnya, ketika kita mendapat kesan bahwa seseorang adalah orang baik, kita dapat mengkonfirmasikannya dengan mencoba meminta bagaimana pendapat orang lain terhadap orang tersebut.
4.      Empati yaitu usaha untuk melihat suatu situasi sebagaimana dipersepsi orang lain sebab setiap orang dapat mendefinisikan sesuatu yang sama secara berbeda.
5.      Meluruskan persepsi seseorang melalui meminta umpan balik ketika mereka memersepsi suatu situasi yang menyimpang.
6.      Menghindari penyimpangan-penyimpangan yang umum terjadi seperti stereotype, hallo effect, dan lain-lain.
7.      Menghindari terjadi pengatribusian yang salah dengan cara menganalisis beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam pengatribusian.[6]

B.     Pengambilan Keputusan Individual
1.      Pengertian Pengambilan Keputusan
Menurut Robins dalam Mesiono (2014: 153)  decision making is a process in which one chooses betwen two or more alternatives. Pendapat ini menegaskan bahwa pengambilan keputusan sebagai proses memilih satu pilihan di antara dua atau lebih alternatif. Pengambilan keputusan adalah menetapkan pilihan atau alternatif secara nalar dan menghindari diri dari pilihan yang tidak rasional, tanpa alasan atau data yang kurang akurat.
Sedangkan menurut Rivai & Mulyadi, Pengambilan keputusan adalah seperangkat langkah yang diambil individu atau kelompok dalam memecahkan masalah. Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi terhadap suatu masalah. Dengan begitu jelaslah bawa pengambilan keputusan merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalam hubungannya dengan organisasi.[7]
Pengambilan keputusan adalah sebuah hasil dari pemecahan masalah, jawaban dari suatu pertanyaan sebagai hukum situasi, dan merupakan pemilihan dari salah satu alternatif dari alternatif-alternatif yang ada, serta pengakhiran dari proses pemikiran tentang masalah atau problema yang dihadapi. Adapun hasil dari pengambilan keputusan adalah keputusan (decision).
Adapun tujuan dari pengambilan keputusan yaitu: tujuan yang bersifat tunggal, terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah. Artinya, sekali diputuskan tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain, dan tujuan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah, artinya keputusan yang diambil sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih, yang bersifat kontradiktif atau yang tidak kontradiktif.
2.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Dalam proses pengambilan keputusan, suatu organisasi tidak terlepas dari faktorfaktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut antara lain:[8]
a.       Posisi atau kedudukan
Dalam rangka pengambilan keputusan, posisi atau kedudukan dapat dilihat dalam hal:
(a)    Letak posisi, sebagai pembuat keputusan, penentu keputusan,  atau staf,
(b)   Tingkatkan posisi, sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional, atau teknis.
b.      Masalah
Masalah atau problem adalah  yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan dari yang diharapkan, direncanakan, dikehendaki atau harus diselesaikan. Masalah dibagi menjadi 2 jenis yaitu masalah yang terstuktur dan masalah tidak terstruktur.
c.       Situasi
Situasi adalah keseluruhan faktor dalam keadaan uamh berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama memencarkan pengaruh terhadap kita beserta yang hendak kita perbuat.
d.      Kondisi
Kondisi adalah keseluruhan faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor tersebut merupakan sumber daya.
e.       Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha pada umumnya telah tertentu atau ditentukan. Tujuan yang telah ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objektif.
3.      Proses Pengambilan Keputusan yang Rasional[9]
Menurut  Rivai & Mulyadi (2012: 256) Teori pengambilan keputusan klasik berasumsi bahwa keputusan harus dengan sepenuhnya rasional. Proses pengambilan keputusan sebagai berikut:
1.      Suatu masalah dikenali,
2.      Tujuan & sasaran hasil dibentuk/mapan,
3.      Semua alternatif yang mungkin dihasilkan,
4.      Konsekuensi dari tiap alternatif dipertimbangkan,
5.      Semua alternatif dievaluasi,
6.      Alternatif yang terbaik adalah satu yang memaksimalkan sasaran hasil dan tujuan,
7.      Akhirnya, keputusan diterapkan dan dievaluasi.
Sedangkan Ivancevich, dkk (2006: 161) mengemukakan ada 9 proses pengambilan keputusan rasional yaitu:
1.      Penetapan Terget dan Tujuan Spesifik serta Pengukuran Hasil.
2.      Identifikasi dan Definisi Masalah,
3.      Penetapan Prioritas,
4.      Mempertimbangkan Penyebab Masalah,
5.      Pengembangan Solusi Alternatif,
6.      Evaluasi Terhadap Seluruh Alternatif Solusi,
7.      Memilih Solusi,
8.      Implementasi,
9.      Tindak Lanjut.
Pendapat diatas sejalan dengan Robbins & Judge (2012: 189) yang berfikir bahwa pembuat keputusan yang paling baik adalah yang rasional. Artinya, pembuat keputusan tersebut membuat pilihan-pilihan yang konsisten dan memaksimalkan nilai dalam batasan-batasan tertentu. Menurut Robbins & Judge (2012: 189) Pilihan-pilihan ini dibuat dengan mengikuti enam langkah dari model pembuatan keputusan yang rasional. Selain itu, ada asumsi-asumsi tertentu yang mendasari model ini. Enam langkah dalam model pembuatan keputusan yang rasional Menurut Robbins & Judge (2012: 189) adalah sebagai berikut: 
1.      Model ini dimulai dengan mendefinisikan masalahnya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebuah masalah ada ketika terdapat ketidaksesuaian antara keadaan yang ada dan keadaan perkara yang diinginkan.
2.      Setelah seorang pembuat keputusan mendefinisikan masalahnya, ia harus mengidentifikasikan kriteria keputusan yang penting dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dalam langkah ini, pembuatan keputusan menentukan apa yang relevan dalam membuat keputusan. Langkah ini memproses berbagai minat, nilai, dan pilihan pribadi yang serupa dari si pembuat keputusan. Pengidentifikasi kriteria tersebut penting karena apa yang dianggap relevan oleh seorang individu belum tentu demikian bagi individu lain. Selain itu, ingatlah bahwa faktor-faktor yang tidak diidentifikasikan dalam langkah ini dianggap tidak relevan dengan si pembuat keputusan.
3.      Semua kriteria yang diidentifikasikan jarang sekali memiliki tingkat kepentingan yang sama. Jadi, langkah ketiga mengharuskan pembuat keputusan untuk menimbang kriteria yang telah diidentifikasikan sebelumnya guna memberi mereka prioritas yang tepat dalam keputusan tersebut.
4.      Langkah keempat mengharuskan pembuat keputusan membuat berbagai alternatif yang dapat berhasil dal menyelesaikan masalah tersebut. Tidak ada usaha yang dikerahkan dalam langkah ini untuk menilai alternatif-alternatif tersebut, hanya untuk menyebutkan mereka.
5.      Setelah alternatif-alternatif dibuat, pembuat keputusan harus menganalisis dan mengevaluasi setiap alternatif dengan seksama. Hal ini dilakukan dengan menilai setiap alternatif dalam setiap kriteria. Kelebihan dan kekurangan setiap alternatif menjadi jelas ketika alternatif tersebut dibandingkan dengan kriteria dan bobot yang diperoleh di langkah kedua dan ketiga.
6.      Langkah terakhir dalam model ini mengharuskan kita untuk memperhitungkan keputusan yang opimal. Hal ini dilakukan dengan mengevaluasi setiap alternatif terhadap kriteria yang ditimbang dan memilih alternatif yang memiliki nilai total lebih tinggi.
4.      Meningkatkan Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan
Meskipun mengikuti langkah-langkah model pembuatan keputusan yang rasional sering kali bisa memperbaiki keputusan, pembuat keputusan yang rasional juga membutuhkan kretivitas, yaitu kemampuan menciptakan ide-ide baru dan bermanfaat. Ini adalah ide-ide yang berbeda dari apa yang telah dilakukan sebelumnya tetapi juga sesuai untuk masalah tersebut atau peluang yang dihadirkan. Mengapa kreativitas sangat penting dalam pembuatan keputusan? Kreativitas memungkinkan pembuat keputusan untuk menilai dan memahami masalah dengan lebih mendalam, termasuk melihat masalah-masalah yang tidak bisa dilihat oleh individu lain. Namun, nilai yang paling jelas dari kreativitas adalah dalam membantu pembuat keputusan mengidentifikasikan semua alternatif yang mungkin, atau dalam mengidentifikasikan alternatif-alternatif yang belum jelas.
a.       Potensial yang Kreatif
Sebagian besar individu memiliki potensial kreatif yang bisa mereka gunakan ketika berhadapan dengan masalah pembuatan keputusan. Tetapi untuk mengeluarkan potensi tersebut, mereka harus ke luar dari pola psikologis yang kita miliki dan belajar meilhat semua masalah dalam cara-cara yang berbeda. Setiap individu memiliki kreaivitas bawaan yang berbeda-beda, dan kreativitas yang luar biasa sangatlah langkah. Sebuah penelitian mengenai kreativitas seumur hidup dari 461 pria dan wanita menyimpulkan bahwa ada kurang dari 1 persen yang mempunyai kreativitas yang luar biasa. Tetapi 10 persen sangat kreatif dan sekitar 60 persen agak kreatif. Ini menunjukan bahwa sebagian besar individu memiliki potensi menjadi kreatif, kita hanya perlu belajar melepaskannya.
b.      Tiga Komponen Model Kreativitas
-          Expertise (keahlian), adalah dasar untuk setiap pekerjaan kreatif. Keahlian disini dapat berupa Kemampuan, pengetahuan, pengalaman, kecakapan. Misalnya, penulis, produser, dan sutradara film Quentin Tarantino menghabiskan masa mudanya dengan bekerja di sebuah toko penyewaan video, yang menambah pengetahuannya tentang film.
-          Creativity Skill (Keterampilan berfikir kreatif). Hal ini mencakup karakteristik kepribadian yang berhubungan dengan krteativitas, kemampuan untuk menggunakan analogi, serta bakat untuk melihat sesuatu yang sudah lazim dari sudut oandang berbeda.
-          Task Motivation (motivasi tugas) adalah keinginan untuk mengerjakan sesuatu karena hal tersebut menarik, rumit, mengasyikkan, memuaskan, atau menantang secara pribadi. Komponen motivasional ini mengubah potensial kreativitas menjadi ide-ide kreatif yang aktual. Hal ini menentukan tingkat sampai mana individu sepenuhnya melibatkan keahlian dan keterampilan kreatif mereka. Jadi, individu yang kreatif sering kali mencintai pekerjaan mereka, sampai di sebuah titik mereka terlihat terobsesi.

5.      Hubungan Persepsi Dengan Pengambilan Keputusan Individu
Individu akan mengambil keputusan ketika ia dihadapkan pada dua atau lebih alternatif. Oleh karena itu, pengambilan keputusan individu merupakan bagian penting dari perilaku organisasi. Tetapi cara individu mengambil keputusan dan kualitas pilihanya sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka. Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi atas suatu masalah yang sedang dihadapi. Yaitu perbedaan antara situasi sekarang dengan situasi yang diinginkan, yang mengharuskan kita untuk mempertimbangkan alternative-alternatif tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah tersebut.
Setiap keputusan membutuhan kita untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi yang kita terima.  Pada umumnya, kita menerima data dari berbagai sumber yang perlu kita saring, proses dan interpretasi. Data mana yang relevan bagi keputusan dan mana yang tidak? Persepsi kita akan menjawab pertanyaan itu. Kita juga perlu mengembangkan alternatifalternatif dan mengevaluasi kekeuatan dan kelemahannya. Sekali lagi, proses perceptual kita akan mempengaruhi hasil akhir. Selama pengambilan keputuasan, kesalahan perseptual sering kali muncul sehingga dapat membiaskan analisis dan kesimpulan.
Menurut Badeni (2013: 60) upaya pembuatan keputusan terjadi ketita seseorang menemui masalah. Suatu kesenjangan terjadi ketika antara seharusnya berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Umpama kendaraan kita rusak sementara kita sangat tergantung dengannya ketika kita harus pergi ke kantor, kita memiliki masalah yang memerlukan pembuatan keputusan. Sayangnya tidak semua masalah tertata rapi seperti yang kita harapkan sehingga kita mudah mengambil keputusan. Sering kali sesuatu itu sudah menjadi masalah bagi kita tapi itu justru belum merupakan masalah bagi orang lain bahkan ia tenang-tenang saja dan puas saja dengan apa ia alami dan capai. Sehubungan dengan ini,  kesadaran akan masalah yang dirasakan ada dan keputusan itu perlu dibuat  juga suatu persoalan perseptual. Lebih-lebih lagi bahwa setiap keputusan memerlukan interprestasi dan penilaian informasi.
Data secara khusus diterima dari berbagai sumber dan perlu untuk disaring, diproses dan diinterpretasi. Data apa yang sesuai untuk mengambil keputusan dan data apa serta data mana yang tidak sesuai. Persepsi pembuat keputusan akan memberikan jawaban atas masalah yang dirasakan. Berbagai alternatif perlu dikembangkan dan kekuatan dan kelemahan masing-masing perlu disaring dan dievaluasi demi pembuatan keputusan, namun hasil sangat tergantung perseptual pembuatan keputusan. Dengan kata lain persepsi seseorang terhadap masalah yang dihadapi sangat mendasari keputusan yang dihasilkan.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus yang diterima oleh individu melalui alat reseptor yaitu indera. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya, persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diinderakan.
Pengambilan keputusan adalah sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan dan tindakan.
Hubungan keduanya adalah dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu dengan menegaskan persepsi yang timbul dari dalam diri dan mengimplementasikannya untuk mengambil keputusan yang menjadi alternatif pada sebuah permasalahan yang terjadi.


DAFTAR PUSTAKA

Wijaya, Candra. 2017. Perilaku Organisasi. Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI).
Tahir, Arifin. 2014. Ajar Buku Periku Organisasi. Yogyakarta: Penerbit Deepublish.
 Lipursari, Anastasia.2013.Peran Sistem Informasi Manajemen (SIM) Dalam Pengambilan Keputusan.5.1-35.



[1] Candra Wijaya,  Perilaku Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 47.
[2] Arifin Tahir, Buku Ajar Periku Organisasi, (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2014), hlm 54.
[3]Candra Wijaya,  Perilaku Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 48..
[4] Candra Wijaya,  Perilaku Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 48.
[5]Arifin Tahir, Buku Ajar Periku Organisasi, (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2014), hlm 60.
[6] Candra Wijaya,  Perilaku Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 54.
[7] Candra Wijaya,  Perilaku Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 55..
[8] Lipursari, Anastasia.2013.Peran Sistem Informasi Manajemen (SIM) Dalam Pengambilan Keputusan.5.1-35
[9] Candra Wijaya,  Perilaku Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 56.