MAKALAH
“PERSEPSI DAN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL”
Disusun
Guna Memenuhi Mata Kuliah Perilaku Organisasi
Dosen
Pengampu : Muhammad Muttaqin, M.M.
Disusun
Oleh :
Siti
Nazilatul Hidayah (63010170277)
PERBANKAN SYARIAH S1
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
(FEBI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Persepsi Dan Pengambilan
Keputusan Individual”. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada
kita jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna.
Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen
mata kuliah Perilaku Organisasi, Bapak Muhammad Muttaqin, M.M. tak lupa
penyusun ucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Perilaku
Organisasi atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini, juga kepada
rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga makalah ini dapat
diselesaikan.
Penulis
berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi anfaat bagi kita semua,
semoga hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai “Persepsi Dan Pengambilan
Keputusan Individual”. Memang makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka
penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah
yang lebih baik.
Demikian
makalah ini, semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan yang membacanya sehingga
menambah wawasan dan pengetahuan tentang tulisan ini.
Salatiga, 22 September 2019
Penyusun
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul
Kata
Pengantar ............................................................................................................ i
Daftar
Isi ....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1
A. Latar
Belakang.................................................................................. 1
B. Rumusan
Masalah............................................................................. 1
C. Tujuan
.............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................... .... 2
A. Persepsi............................................................................................. 2
B. Pengambilan
Keputusan ................................................................... 7
C. Hubungan
Persepsi Dengan Pengambilan Keputusan ..................... 12
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 14
A. Kesimpulan ..................................................................................... 14
Daftar Pustaka ............................................................................................................. 15
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Banyak gaya atau cara dalam pengambilan
keputusan. Ada orang yang cenderung menghindari masalah, ada juga yang berusaha
memecahkan/menyelesaikan masalah, bahkan ada yang mencari-cari masalah. Pada
prinsipnya, cara pengambilan keputusan mengacu pada bagaimana seseorang
mengolah informasi, apakah lebih dominan menggunakan pikirannya, ataukah dengan
perasaannya. Setelah semua informasi diperoleh melalui fungsi persepsi, maka
seseorang harus melakukan sesuatu dengan informasi tersebut.
Salah satu cara untuk mengambil
keputusan adalah dengan mempergunakan perasaan dan persepsi. Perasaan disini
bukan berarti emosi, melainkan dengan mempertimbangkan dampak dari suatu
putusan terhadap diri sendiri dan orang lain. Apakah manfaatnya bagi diri
sendiri dan orang lain. Apabila kita mengambil keputusan berdasarkan perasaan,
kita akan mempertanyakan seberapa jauh kita pribadi akan melibatkan diri secara
langsung, seberapa jauh kita merasa turut bertanggung jawab terhadap dampak
atas keputusan yang diambil, baik terhadap sendiri maupun orang lain. Mereka
yang mempunyai preferensi menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan,
cenderung bersikap simpatik, bijaksana dan sangat menghargai sesama.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
konsep persepsi ?
2. Bagaimana
konsep pengambilan keputusan individual ?
3. Bagaimana
hubungan antara persepsi dengan pengambilan keputusan individual ?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui konsep persepsi.
2. Untuk
mengetahui konsep pengambilan keputusan individual.
3. Untuk
mengetahui hubungan antara persepsi dengan pengambilan keputusan individual.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Persepsi
1.
Pengertian
Persepsi
Menurut Suhendi & Anggara (2012: 67)
Persepsi diartikan sebagai proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu
informasi terhadap ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap
stimulus. Stimulus diperoleh dari proses pengindraan terhadap objek, peristiwa,
atau hubungan-hubungan antargejala
yang selanjutnya diproses oleh otak. Sementara itu Persepsi (perception) menurut Robbins & Judge
(2012: 175) adalah proses di mana individu mengatur dan menginterpretasikan
kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Namun
apa yang diterima seseorang pada dasarnya bisa berbeda dari realitas objektif.
Rakhmat (2005: 51) Persepsi adalah
Pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh
dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Thoha, (2003 :141) memberikan defenisi tentang persepsi
pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam
memahami informasi tentang lingkungan baik lewat penglihatan, penghayatan,
perasaan dan penciuman. Mangkunegara, (2005:14) mengemukakan tentang pengertian
persepsi sebagai berikut : suatu proses menyeleksi stimulus dan diartikan.[1]
Robbins, (2007:175) memberikan
pengertian persepsi atau perception adalah
proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris
mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.
Sementara Kast dan James (2002:394),
persepsi adalah untuk memahami perilaku, karena ia merupakan alat dengan mana
ransangan (stimuli) mempengaruhi seseorang atau sesuatu organisme. Suatu
ransangan yang tidak dirasakan, tidak akan berpengaruh terhadap perilaku.
Dengan demikian orang berperilaku berdasarkan apa yang dirasakan dan bukan apa
yang sesungguhnya. Dengan kata lain bahwa garis langsung ke kebenaran
seringkali dianggap berdasarkan berbagai persepsi individual tentang dunia
nyata, tetapi setiap orang sesungguhnya hanya mempunyai satu sudut pandangan
saja.
Dari berbagai defenisi yang dikemukakan
di atas disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu proses pemberian arti atau
makna terhadap suatu objek yang ada pada lingkungan. Dengan demikian setiap
orang mempunyai persepsi sendiri- sendiri, karena perbedaan kemampuan inderanya
dalam menangkap stimuli (obyek).[2]
2.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Persepsi
Gambar tersebut (Sumber: Stephen Robbins dan Judge,
Organizational Behavior, (2012:176)
menunjukkan bahwa persepsi dibentuk oleh tiga faktor, yaitu: (1) Perceiver, orang yang memberikan
persepsi, (2) target, orang atau objek yang menjadi sasaran persepsi, dan (3)
situasi, keadaan pada saat persepsi dilakukan. Faktor pelaku persepsi
mengandung komponen: (a) Sikap-sikap, (b) Motif-motif, (c) Minat-minat, (d)
Pengalaman, (e) Harapan- harapan. Pelaku persepsi disini adalah penafsiran
seorang individu pada suatu objek yang dilihatnya akan sangat dipengaruhi oleh
karakteristik pribadinya sendiri, diantaranya sikap, motif, minat, pengalaman,
dan harapan.
Kebutuhan atau motif yang tidak dipuaskan akan
merangsang individu dan mempunyai pengaruh yang kuat pada persepsi mereka.
Contohnya seperti seorang tukang rias akan lebih memperhatikan kesempurnaan
riasan orang daripada seorang tukang masak, seorang yang disibukkan dengan
masalah pribadi akan sulit mencurahkan perhatian untuk orang lain. Hal ini
menunjukkan bahwa kita dipengaruhi oleh kepentingan/minat kita. Sama halnya
dengan ketertarikan kita untuk memperhatikan hal-hal baru, dan persepsi kita
mengenai orang-orang tanpa memperdulikan ciri-ciri mereka yang sebenarnya.
Faktor target mengandung komponen: (a) sesuatu yang
baru, (b) gerakan, (c) suara, (d) ukuran, (f) latar belakang, (g) kedekatan (h)
kemiripan. Dari target ini akan membentuk cara kita memandangnya. Misalnya saja
suatu gambar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang oleh orang yang berbeda.
Selain itu, objek yang berdekatan akan dipersepsikan secara bersama-sama pula.
Faktor Situasi mengandung komponen: (a) waktu, (b) keadaan kerja, (c) keadilan
sosial. Faktor dalam situasi juga berpengaruh bagi persepsi kita. Misalnya
saja, seorang wanita yang berparas lumayan mungkin tidak akan terlihat oleh
laki-laki bila ia berada di mall, namun jika ia berada di pasar,
kemungkinanannya sangat besar bahwa para lelaki akan memandangnya.[3]
3.
Pengelompokan
Persepsi
Menurut Thoha (2011: 157)
Pengorganisasian persepsi itu meliputi tiga hal berikut ini:
1. Kesamaan
dan ketidaksamaan
Sesuatu obyek yang mempunyai kesamaan
dan ketidaksamaan ciri, akan diperepsi sebagai suatu obyek yang berhubungan dan
ketidakhubungan. Artinya obyek yang mempunyai ciri yang sama diperepsikan ada
hubungannya, sedangkan obyek yang mempunyai ciri tidak sama adalah terpisah.
2. Kedekatan
dalam ruang
Obyek atau peristiwa yang dilihat oleh
orang karena adanya kedekatan dalam ruang tertentu, akan dengan mudah diartikan
sebagai obyek atau peristiwa yang ada hubungannya.
3. Kedekatan
dalam waktu
Obyek atau peristiwa juga dilihat
sebagai hal yang mempunyai hubungan karena adanya kedekatan atau kesamaan dalam
waktu.
Ketiga hal di atas merupakan proses pengorganisasian
persepsi. Setiap obyek yang diketahui adanya kesamaan dan ketidaksamaan,
kedekatan dalam ruang, dan kedekatan dalam waktu, maka akan diorganisasikan
sedemikian rupa sehingga menciptakan suatu persepsi tertentu. Dapat di
gambarkan berikut ini : [4]
4.
Kesalahan
Persepsi
Ada sejumlah kesalahan persepsi yang
sering terjadi dalam mempersepsikan orang lain. Kesalahan persepsi tersebut
antara stereotyping, halo effect dan projection Stereotyping, adalah
mengkategorikan atau menilai seseorang hanya atas dasar satu atau beberapa
sifat dari kelompoknya.
a. Stereotypin, seringkali
didasarkan atas jenis kelamin, keturunan, umur, agama, kebangsaan dan kedudukan
atau jabatan. Misalnya seorang manajer mempunyai persepsi bahwa ibu-ibu
terutama yang mempunyai bayi di rumah tidak menyukai bekerja lembur dan
meganggap bahwa bekerja lembur merupakan satu beban. Secara umum presepsi
tersebut mungkin benar, tetapi tidak berarti benar untuk ibu-ibu tertentu.
b. Halo Efeect, adalah
kecenderungan menilai seseorang hanya atas dasar salah satu sifatnya saja.
Misalnya seseorang yang mudah senyum dan penampilannya rapi di anggap lebih
jujur dari orang yang berpenampilan serem. Hallo
effect sering terjadi pada saat melakukan penilaian dan wawancara.
Pewawancara seringkali menilai hanya dari slah satu sifat seseorang yang nampak
menonjol pada saat wawancara dilakukan, pada hal salah satu sifat tersebut
tidak mencerminkan sifat yang sebenarnya dari orang yang di wawancarai
tersebut.
c. Projection, merupakan
kecenderungan seseorang untuk menilai orang lain atas dasar perasaan dan
sifatnya. Oleh karenanya projection berfungsi
sebagai suatu mekanisme pertahanan dari konsep diri seseorang sehinga lebih
mampu menghadapi yang di lihatnya tidak wajar.[5]
5.
Memperbaiki
Persepsi
Persepsi dapat mempengaruhi perilaku, dapat juga
terjadi persepsi mengalami penyimpangan dalam berbagai macam bentuk. Oleh
karena itu, seorang manajer harus mampu mengurangi kemungkinan terjadinya
penyimpangan. Di bawah ini beberapa pedoman menurut Badeni (2013:59) yang dapat dipakai untuk mengatasi hal tersebut.
1. Menyadari
kapan faktor perceptual dapat
memengaruhi persepsi seseorang. Misalnya, ketika kita menyampaikan suatu ide
baru, kita harus sadar bahwa hal yang baru dapat memengaruhi persepsi orang
tersebut bahwa hal itu sesuatu yang terbaik. Untuk itu, kita harus mencoba
memengaruhi supaya hal baru tersebut tidak memengaruhi persepsinya. Contoh
lain, ketika kita menugasi seseorang dengan tugas tertentu, seperti memimpin
suatu kelompok.
2. Menyadari motif (misalnya
motif kuasa, afiliasi, dan lainnya) dapat berpengaruh terhadap persepsi tentang
peran memimpin. Cara yang dilakukan adalah dengan menjelaskan perannya secara
ekspilisit.
3. Mencari
informasi lain untuk mengonfirmasi yang kita tangkap.
Misalnya, ketika kita mendapat kesan bahwa seseorang adalah orang baik, kita
dapat mengkonfirmasikannya dengan mencoba meminta bagaimana pendapat orang lain
terhadap orang tersebut.
4. Empati yaitu
usaha untuk melihat suatu situasi sebagaimana dipersepsi orang lain sebab
setiap orang dapat mendefinisikan sesuatu yang sama secara berbeda.
5.
Meluruskan
persepsi seseorang melalui meminta umpan balik ketika mereka memersepsi suatu
situasi yang menyimpang.
6.
Menghindari
penyimpangan-penyimpangan yang umum terjadi
seperti
stereotype, hallo effect, dan
lain-lain.
7. Menghindari
terjadi pengatribusian yang salah dengan cara menganalisis beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam pengatribusian.[6]
B.
Pengambilan
Keputusan Individual
1.
Pengertian
Pengambilan Keputusan
Menurut Robins dalam Mesiono (2014: 153)
decision making is a process in which
one chooses betwen two or more alternatives. Pendapat ini menegaskan bahwa
pengambilan keputusan sebagai proses memilih satu pilihan di antara dua atau
lebih alternatif. Pengambilan keputusan adalah menetapkan pilihan atau
alternatif secara nalar dan menghindari diri dari pilihan yang tidak rasional,
tanpa alasan atau data yang kurang akurat.
Sedangkan menurut Rivai & Mulyadi,
Pengambilan keputusan adalah seperangkat langkah yang diambil individu atau
kelompok dalam memecahkan masalah. Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi
terhadap suatu masalah. Dengan begitu jelaslah bawa pengambilan keputusan
merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalam hubungannya dengan organisasi.[7]
Pengambilan keputusan adalah sebuah hasil
dari pemecahan masalah, jawaban dari suatu pertanyaan sebagai hukum situasi,
dan merupakan pemilihan dari salah satu alternatif dari alternatif-alternatif
yang ada, serta pengakhiran dari proses pemikiran tentang masalah atau problema
yang dihadapi. Adapun hasil dari pengambilan keputusan adalah keputusan
(decision).
Adapun tujuan dari pengambilan keputusan
yaitu: tujuan yang bersifat tunggal, terjadi apabila keputusan yang dihasilkan
hanya menyangkut satu masalah. Artinya, sekali diputuskan tidak akan ada
kaitannya dengan masalah lain, dan tujuan yang bersifat ganda terjadi apabila
keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah, artinya keputusan
yang diambil sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih, yang bersifat
kontradiktif atau yang tidak kontradiktif.
2.
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Dalam proses pengambilan keputusan,
suatu organisasi tidak terlepas dari faktorfaktor yang mempengaruhinya.
Faktor-faktor tersebut antara lain:[8]
a. Posisi
atau kedudukan
Dalam rangka pengambilan keputusan,
posisi atau kedudukan dapat dilihat dalam hal:
(a) Letak
posisi, sebagai pembuat keputusan, penentu keputusan, atau staf,
(b) Tingkatkan
posisi, sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional, atau teknis.
b. Masalah
Masalah atau problem adalah yang menjadi penghalang untuk tercapainya
tujuan, yang merupakan penyimpangan dari yang diharapkan, direncanakan,
dikehendaki atau harus diselesaikan. Masalah dibagi menjadi 2 jenis yaitu
masalah yang terstuktur dan masalah tidak terstruktur.
c. Situasi
Situasi adalah keseluruhan faktor dalam
keadaan uamh berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama memencarkan
pengaruh terhadap kita beserta yang hendak kita perbuat.
d. Kondisi
Kondisi adalah keseluruhan faktor yang
secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita.
Sebagian besar faktor tersebut merupakan sumber daya.
e. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan
perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha pada
umumnya telah tertentu atau ditentukan. Tujuan yang telah ditentukan dalam
pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objektif.
3.
Proses
Pengambilan Keputusan yang Rasional[9]
Menurut
Rivai & Mulyadi (2012: 256) Teori pengambilan keputusan klasik
berasumsi bahwa keputusan harus dengan sepenuhnya rasional. Proses pengambilan
keputusan sebagai berikut:
1. Suatu
masalah dikenali,
2. Tujuan
& sasaran hasil dibentuk/mapan,
3. Semua
alternatif yang mungkin dihasilkan,
4. Konsekuensi
dari tiap alternatif dipertimbangkan,
5. Semua
alternatif dievaluasi,
6. Alternatif
yang terbaik adalah satu yang memaksimalkan sasaran hasil dan tujuan,
7. Akhirnya,
keputusan diterapkan dan dievaluasi.
Sedangkan Ivancevich, dkk (2006: 161)
mengemukakan ada 9 proses pengambilan keputusan rasional yaitu:
1. Penetapan
Terget dan Tujuan Spesifik serta Pengukuran Hasil.
2. Identifikasi
dan Definisi Masalah,
3. Penetapan
Prioritas,
4. Mempertimbangkan
Penyebab Masalah,
5. Pengembangan
Solusi Alternatif,
6. Evaluasi
Terhadap Seluruh Alternatif Solusi,
7. Memilih
Solusi,
8. Implementasi,
9. Tindak
Lanjut.
Pendapat diatas sejalan dengan Robbins
& Judge (2012: 189) yang berfikir bahwa pembuat keputusan yang paling baik
adalah yang rasional. Artinya, pembuat keputusan tersebut membuat
pilihan-pilihan yang konsisten dan memaksimalkan nilai dalam batasan-batasan
tertentu. Menurut Robbins & Judge (2012: 189) Pilihan-pilihan ini dibuat
dengan mengikuti enam langkah dari model pembuatan keputusan yang rasional.
Selain itu, ada asumsi-asumsi tertentu yang mendasari model ini. Enam langkah
dalam model pembuatan keputusan yang rasional Menurut Robbins & Judge
(2012: 189) adalah sebagai berikut:
1. Model
ini dimulai dengan mendefinisikan masalahnya. Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, sebuah masalah ada ketika terdapat ketidaksesuaian antara keadaan
yang ada dan keadaan perkara yang diinginkan.
2. Setelah
seorang pembuat keputusan mendefinisikan masalahnya, ia harus
mengidentifikasikan kriteria keputusan yang penting dalam menyelesaikan masalah
tersebut. Dalam langkah ini, pembuatan keputusan menentukan apa yang relevan
dalam membuat keputusan. Langkah ini memproses berbagai minat, nilai, dan
pilihan pribadi yang serupa dari si pembuat keputusan. Pengidentifikasi
kriteria tersebut penting karena apa yang dianggap relevan oleh seorang
individu belum tentu demikian bagi individu lain. Selain itu, ingatlah bahwa
faktor-faktor yang tidak diidentifikasikan dalam langkah ini dianggap tidak
relevan dengan si pembuat keputusan.
3. Semua
kriteria yang diidentifikasikan jarang sekali memiliki tingkat kepentingan yang
sama. Jadi, langkah ketiga mengharuskan pembuat keputusan untuk menimbang
kriteria yang telah diidentifikasikan sebelumnya guna memberi mereka prioritas
yang tepat dalam keputusan tersebut.
4. Langkah
keempat mengharuskan pembuat keputusan membuat berbagai alternatif yang dapat
berhasil dal menyelesaikan masalah tersebut. Tidak ada usaha yang dikerahkan
dalam langkah ini untuk menilai alternatif-alternatif tersebut, hanya untuk
menyebutkan mereka.
5. Setelah
alternatif-alternatif dibuat, pembuat keputusan harus menganalisis dan
mengevaluasi setiap alternatif dengan seksama. Hal ini dilakukan dengan menilai
setiap alternatif dalam setiap kriteria. Kelebihan dan kekurangan setiap
alternatif menjadi jelas ketika alternatif tersebut dibandingkan dengan kriteria
dan bobot yang diperoleh di langkah kedua dan ketiga.
6. Langkah
terakhir dalam model ini mengharuskan kita untuk memperhitungkan keputusan yang
opimal. Hal ini dilakukan dengan mengevaluasi setiap alternatif terhadap
kriteria yang ditimbang dan memilih alternatif yang memiliki nilai total lebih
tinggi.
4.
Meningkatkan
Kreativitas dalam Pengambilan Keputusan
Meskipun mengikuti langkah-langkah model
pembuatan keputusan yang rasional sering kali bisa memperbaiki keputusan,
pembuat keputusan yang rasional juga membutuhkan kretivitas, yaitu kemampuan
menciptakan ide-ide baru dan bermanfaat. Ini adalah ide-ide yang berbeda dari
apa yang telah dilakukan sebelumnya tetapi juga sesuai untuk masalah tersebut
atau peluang yang dihadirkan. Mengapa kreativitas sangat penting dalam
pembuatan keputusan? Kreativitas memungkinkan pembuat keputusan untuk menilai
dan memahami masalah dengan lebih mendalam, termasuk melihat masalah-masalah
yang tidak bisa dilihat oleh individu lain. Namun, nilai yang paling jelas dari
kreativitas adalah dalam membantu pembuat keputusan mengidentifikasikan semua
alternatif yang mungkin, atau dalam mengidentifikasikan alternatif-alternatif
yang belum jelas.
a. Potensial
yang Kreatif
Sebagian besar individu memiliki
potensial kreatif yang bisa mereka gunakan ketika berhadapan dengan masalah
pembuatan keputusan. Tetapi untuk mengeluarkan potensi tersebut, mereka harus
ke luar dari pola psikologis yang kita miliki dan belajar meilhat semua masalah
dalam cara-cara yang berbeda. Setiap individu memiliki kreaivitas bawaan yang
berbeda-beda, dan kreativitas yang luar biasa sangatlah langkah. Sebuah
penelitian mengenai kreativitas seumur hidup dari 461 pria dan wanita
menyimpulkan bahwa ada kurang dari 1 persen yang mempunyai kreativitas yang
luar biasa. Tetapi 10 persen sangat kreatif dan sekitar 60 persen agak kreatif.
Ini menunjukan bahwa sebagian besar individu memiliki potensi menjadi kreatif,
kita hanya perlu belajar melepaskannya.
b. Tiga
Komponen Model Kreativitas
-
Expertise
(keahlian), adalah dasar untuk setiap pekerjaan kreatif. Keahlian disini dapat
berupa Kemampuan, pengetahuan, pengalaman, kecakapan. Misalnya, penulis,
produser, dan sutradara film Quentin Tarantino menghabiskan masa mudanya dengan
bekerja di sebuah toko penyewaan video, yang menambah pengetahuannya tentang
film.
-
Creativity
Skill (Keterampilan berfikir kreatif). Hal ini mencakup
karakteristik kepribadian yang berhubungan dengan krteativitas, kemampuan untuk
menggunakan analogi, serta bakat untuk melihat sesuatu yang sudah lazim dari
sudut oandang berbeda.
-
Task
Motivation (motivasi tugas) adalah keinginan untuk mengerjakan
sesuatu karena hal tersebut menarik, rumit, mengasyikkan, memuaskan, atau
menantang secara pribadi. Komponen motivasional ini mengubah potensial
kreativitas menjadi ide-ide kreatif yang aktual. Hal ini menentukan tingkat
sampai mana individu sepenuhnya melibatkan keahlian dan keterampilan kreatif
mereka. Jadi, individu yang kreatif sering kali mencintai pekerjaan mereka,
sampai di sebuah titik mereka terlihat terobsesi.
5.
Hubungan
Persepsi Dengan Pengambilan Keputusan Individu
Individu akan mengambil keputusan ketika
ia dihadapkan pada dua atau lebih alternatif. Oleh karena itu, pengambilan
keputusan individu merupakan bagian penting dari perilaku organisasi. Tetapi
cara individu mengambil keputusan dan kualitas pilihanya sangat dipengaruhi
oleh persepsi mereka. Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi atas suatu
masalah yang sedang dihadapi. Yaitu perbedaan antara situasi sekarang dengan
situasi yang diinginkan, yang mengharuskan kita untuk mempertimbangkan
alternative-alternatif tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi atau
menyelesaikan masalah tersebut.
Setiap keputusan membutuhan kita untuk
menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi yang kita terima. Pada umumnya, kita menerima data dari
berbagai sumber yang perlu kita saring, proses dan interpretasi. Data mana yang
relevan bagi keputusan dan mana yang tidak? Persepsi kita akan menjawab
pertanyaan itu. Kita juga perlu mengembangkan alternatifalternatif dan
mengevaluasi kekeuatan dan kelemahannya. Sekali lagi, proses perceptual kita
akan mempengaruhi hasil akhir. Selama pengambilan keputuasan, kesalahan
perseptual sering kali muncul sehingga dapat membiaskan analisis dan kesimpulan.
Menurut Badeni (2013: 60) upaya
pembuatan keputusan terjadi ketita seseorang menemui masalah. Suatu kesenjangan
terjadi ketika antara seharusnya berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Umpama
kendaraan kita rusak sementara kita sangat tergantung dengannya ketika kita
harus pergi ke kantor, kita memiliki masalah yang memerlukan pembuatan
keputusan. Sayangnya tidak semua masalah tertata rapi seperti yang kita
harapkan sehingga kita mudah mengambil keputusan. Sering kali sesuatu itu sudah
menjadi masalah bagi kita tapi itu justru belum merupakan masalah bagi orang
lain bahkan ia tenang-tenang saja dan puas saja dengan apa ia alami dan capai.
Sehubungan dengan ini, kesadaran akan
masalah yang dirasakan ada dan keputusan itu perlu dibuat juga suatu persoalan perseptual. Lebih-lebih
lagi bahwa setiap keputusan memerlukan interprestasi dan penilaian informasi.
Data secara khusus diterima dari berbagai sumber dan
perlu untuk disaring, diproses dan diinterpretasi. Data apa yang sesuai untuk
mengambil keputusan dan data apa serta data mana yang tidak sesuai. Persepsi
pembuat keputusan akan memberikan jawaban atas masalah yang dirasakan. Berbagai
alternatif perlu dikembangkan dan kekuatan dan kelemahan masing-masing perlu
disaring dan dievaluasi demi pembuatan keputusan, namun hasil sangat tergantung
perseptual pembuatan keputusan. Dengan kata lain persepsi seseorang terhadap
masalah yang dihadapi sangat mendasari keputusan yang dihasilkan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Persepsi merupakan suatu proses yang
didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus yang diterima oleh individu
melalui alat reseptor yaitu indera. Alat indera merupakan penghubung antara
individu dengan dunia luarnya, persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh
individu, diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu
menyadari dan mengerti tentang apa yang diinderakan.
Pengambilan keputusan adalah sebagai
suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada
pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia.
Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final.
Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan dan tindakan.
Hubungan keduanya adalah dalam pengambilan keputusan
yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu dengan menegaskan persepsi
yang timbul dari dalam diri dan mengimplementasikannya untuk mengambil
keputusan yang menjadi alternatif pada sebuah permasalahan yang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Wijaya,
Candra. 2017. Perilaku Organisasi. Medan:
Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI).
Tahir,
Arifin. 2014. Ajar Buku Periku Organisasi. Yogyakarta: Penerbit
Deepublish.
Lipursari, Anastasia.2013.Peran Sistem Informasi Manajemen (SIM) Dalam
Pengambilan Keputusan.5.1-35.
[1] Candra Wijaya, Perilaku
Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 47.
[2] Arifin Tahir, Buku Ajar Periku
Organisasi, (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2014), hlm 54.
[3]Candra Wijaya, Perilaku
Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 48..
[4]
Candra Wijaya, Perilaku
Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 48.
[5]Arifin Tahir, Buku Ajar Periku
Organisasi, (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2014), hlm 60.
[6]
Candra Wijaya, Perilaku
Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 54.
[7]
Candra Wijaya, Perilaku
Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 55..
[8]
Lipursari, Anastasia.2013.Peran Sistem
Informasi Manajemen (SIM) Dalam Pengambilan Keputusan.5.1-35
[9]
Candra Wijaya, Perilaku
Organisasi, (Medan: LPPPI,2017), hlm 56.